A Teaspoon of Transcendence

A Teaspoon of Transcendence

A Teaspoon of Transcendence

Stats

Lv. 90/90
Base ATK 674
CRIT DMG 44.1%

Weapon Effect

White Fairy's Queening

ATK +28%.
Selain itu, setiap kali Charged Attack Karakter yang mengenakan mengenai musuh, Karakter akan mencapai efek "Surmount" singkat: DMG reaksi Stellar-Conduct Karakter yang mengenakan +16% selama 5 detik. Efek ini dapat ditumpuk sampai 3 lapis, maksimum ditumpuk sekali setiap 0,2 detik.

Total Materials

Description

Dalam cerita yang tak terhitung jumlahnya, benda imajinasi yang memiliki definisi yang tak terhitung jumlahnya. Dari skala alam semesta dan mimpi, sebenarnya tidak ada perbedaan nyata antara pedang suci sang pahlawan dan sendok teh sang putri, roda gigi yang dingin, dan kunci untuk membuka gerbang yang melampaui batas. Pahlawan dalam cerita yang berbeda tentu akan menemukan pedang suci yang berbeda, dan pada akhirnya menghadapi musuh bebuyutan yang berbeda pula.
Dan di akhir semua cerita, meski memiliki kekuatan yang luar biasa dan berbagai siasat, penjahat selalu akan dikalahkan oleh pahlawan yang memegang pedang.

"Lagi-lagi begini? Sang pahlawan mengalahkan musuh bebuyutannya yang jahat, lalu hidup bahagia bersama sang putri selamanya ...."
Nona muda yang cerdas dan anggun itu menutup halaman bukunya, sementara mekanisme jam di belakangnya mengeluarkan suara lemah yang penuh kebingungan.
"Aku tidak mengerti, Alain. Kenapa semua cerita selalu begitu, sang pahlawan selalu menang pada akhirnya?"

"Hmm, menurutku, mungkin karena dalam sebuah cerita, akhir yang bahagia dan mudah dipahami lebih disukai orang."
"Dulu aku pernah punya seorang teman yang gemar bermain catur. Kini bila kuingat kembali, mungkin yang dia sukai hanyalah metafora dari permainan catur itu sendiri."
"Dengan kata-katanya, buah catur ditakdirkan tunduk pada langkah permainan, sebagaimana mereka yang lemah kemauan tunduk pada takdir."
"Begitu pula dengan cerita. Jika ada pahlawan yang menggenggam pedang suci, maka pasti ada naga jahat yang harus ditaklukkan."

Nona muda yang cerdas dan anggun itu berpikir mendalam selama beberapa detik, lalu segera sampai pada sebuah kesimpulan yang sempurna:
"Aku tidak paham."

"Kalau begitu, mari kita ceritakan kisah yang berbeda. Dalam kisah ini, sang pahlawan yang menggenggam pedang suci justru kalah."
"Dahulu kala, di tempat yang sangat jauh ...."
"Ada sebuah kerajaan yang dikuasai oleh naga putih ...."

....

Ramalan berkata bahwa kerajaan sedang berjalan menuju akhir zaman yang ditakdirkan mengering, bahkan sang putri yang cantik pun akan ikut layu.
Untuk menyelamatkan dunia yang sekarat di dalam cangkang telur, pahlawan Narzissenkreuz pergi mencari pedang suci terhebat yang pernah diceritakan dalam legenda.
Dia percaya bahwa hanya dengan memutus belenggu keduniawian dan menyatukan keinginan semua orang dan melampaui batas-batas kebaikan dan kejahatan.

Berani berkorban, berani berpisah, berani menderita.
Sang pahlawan Narzissenkreuz selalu memimpikan sesuatu yang begitu luas dan mulia,
Sehingga tubuh fana tidak mampu menanggung mimpi itu.
Maka sang pahlawan mendambakan untuk melampaui kelemahan darah dan daging.
Dia mendambakan untuk menanggung sendiri semua dosa dan penderitaan,
Mendambakan dihapusnya air mata dunia dengan keajaiban kegemilangan,
Mendambakan apa yang disebut transformasi, seperti halnya manusia terhadap kera.

Tapi, bagaimana mungkin sebuah kerajaan tanpa rakyat bisa disebut sebagai sebuah kerajaan?
Maka naga putih yang dengan keras kepala berpegang teguh pada cara-cara lama tersebut mencoba menghentikan pahlawan yang saleh itu.
Dia menciptakan banyak sekali jebakan jahat yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan,
Bahkan sang pahlawan Narzissenkreuz yang menggenggam pedang suci pun tersudutkan olehnya.

Sebelum menjatuhkan diri ke dalam celah yang melarutkan segalanya, sang pahlawan tampaknya teringat akan masa-masa yang pernah dia jalani bersama sang naga, lalu berkata:
"Aku tidak akan menyimpan dendam. Aku tahu kamu belum menyaksikan yang telah kusaksikan, dan karena itulah kamu ingin menghentikanku."
"Aku akan kembali untuk menyelamatkan semua jiwa. Baik itu dalam sepuluh atau seratus tahun, aku akan terlahir kembali sebagai alam semesta baru."

Mimpinya selalu begitu tulus, pikir naga itu. Mungkin, untuk sesaat, naga itu bahkan berharap sang pahlawan bisa menang.
Namun naga tetaplah naga. Naga tidak akan tergerak oleh hati sang pahlawan.
Sang naga hanya menyaksikan sang pahlawan jatuh ke dalam celah, larut sia-sia bersama mimpinya.

....

"Naga itu jahat sekali."

"Memang. Itulah alasannya dia disebut dengan naga jahat. Meski berhasil mengalahkan sang pahlawan, dia kehilangan semua harta yang paling berharga baginya."
"Mungkin naga itu memang tidak bisa memahami pilihan sang pahlawan. Sang pahlawan ingin menyelamatkan dunia manusia, tetapi dia tidak bisa menerima kelemahan manusia."
"Jika tidak semua orang bisa menjadi pahlawan yang cukup kuat untuk mengatasi takdir, maka tidak ada artinya transendensi bagi satu orang saja."

"Hah ... aku tidak suka cerita ini. Si pahlawan terlalu sombong, si naga terlalu keras kepala. Keduanya bodoh karena tidak tahu caranya beradaptasi."
"Katanya ingin menyelamatkan dunia, tapi memahami perasaan satu sama lain saja tidak bisa. Kalau aku sih pasti tidak akan begitu."

"Senang mendengarnya. Lagi pula, gagasan mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan dunia hanyalah obsesi yang tidak realistis."
"Itulah mengapa cerita selalu lebih populer ketika pahlawan yang saleh dan baik hati keluar sebagai pemenangnya."
"Pahlawan dalam cerita yang berbeda tentu akan menemukan pedang suci yang berbeda, dan pada akhirnya menghadapi musuh bebuyutan yang berbeda pula."
"Dan di akhir semua cerita, meski memiliki kekuatan yang luar biasa dan berbagai siasat, penjahat selalu akan dikalahkan oleh pahlawan yang memegang pedang ...."