Set Bonuses
4-Piece Set
Setelah diri sendiri memicu Stellar Swirl, CRIT Rate diri endiri +16% dan DMG reaksi Stellar Swirl +40% selama 10 detik.
Setelah Karakter yang mengenakan memicu reaksi Stellar Swirl atau mengakibatkan DMG Stellar Swirl, CRIT Rate +16% dan DMG Stellar Swirl +40% selama 10 detik.
Story
Honor to Your Devotion
No description No story
Honor to Your Devotion
No description Nona Guillotin duduk di alun-alun pusat Snezhnograd, menikmati sup sayur merah di luar ruangan dan kopi panas yang dicampur dengan alkohol layaknya penduduk setempat. Kopi yang baru saja disajikan itu cepat mendingin diterpa angin dingin, namun saat ditelan, hangatnya menjalar dari tenggorokan hingga ke perut. Nona Guillotin yang cerdas itu langsung memahami mengapa pelayan bertelinga lancip itu menyarankannya untuk menambahkan Fire-Water dua kali lipat.
Perjalanan dari Fontaine ke Snezhnaya menghabiskan banyak waktu dan tenaganya, sebagian besar dihabiskan di padang salju. Cuaca jauh lebih dingin dari perkiraan, namun jalanannya tidak sesulit yang dibayangkan—hal yang justru memperlambat perjalanannya hanyalah tempat aneh ini. Ia menyaksikan seseorang melompat telanjang dada dari pohon setinggi lebih dari sepuluh meter ke tumpukan salju, lalu melihat anak-anak berlari di atas danau beku, berlomba siapa yang paling cepat menginjak lapisan es hingga pecah dan jatuh ke dalam air. Orang yang tidak beruntung adalah pemenangnya, jadi orang yang tidak beruntung itu justru yang menjadi paling bahagia. Semua ini bahkan lebih sulit dipahami daripada kisah kecil Alain tentang pahlawan yang melawan naga—karena tidak ada makna yang terlihat, namun tetap membuatnya merasa sangat penasaran.
Beberapa bulan lalu, ia duduk di bangku panjang di Court of Fontaine sambil memegang cangkir teh, memandang gedung di seberang yang sedang direnovasi melalui udara lembap berkabut, menghabiskan waktu dengan mencari-cari kesalahan tim konstruksi. Orang yang bertugas mengawasi pekerjaan itu tidak merasa kesal, justru menyampaikan terima kasih padanya, sehingga meninggalkan kesan yang cukup baik, dan karenanya ia membiarkan orang itu mengobrol sendiri sesuka hati. Orang yang mengaku sebagai ketua cabang suatu asosiasi itu berbicara dengan nada yang datar dan tenang, membuatnya mengantuk. Ini sebenarnya kesempatan bagus untuk beristirahat, sayang sekali sejak Alain pergi, ia selalu memiliki terlalu banyak waktu untuk melamun dan tertidur, serta sudah terbiasa menangani urusan-urusan sepele di luar penelitian dalam keadaan setengah tidur.
Misalnya saja, Palais Mermonia telah mengeluarkan sejumlah besar uang santunan untuk Duke__ Alain Guillotin, dan ia tidak ingin menjadi seperti si kikir yang memeluk Mora-nya hingga mati di tempat—karena jelas ia tidak akan mati karena usia tua—dan ia pun tidak ingin berubah menjadi kisah horor ratusan tahun kemudian tentang rubanah yang dihuni boneka berhantu. Ia pernah mendengar bahwa bank di dekat sana menawarkan solusi pengelolaan keuangan yang cukup baik, namun bank dari bangsa asing itu sendiri terasa seperti jebakan, dan sebesar apa pun pujian wakil ketua asosiasi di sebelahnya tentang kedermawanan pendanaan bank tersebut, tetap saja tidak bisa meyakinkan Nona Guillotin yang cerdas itu.
Misalnya lagi, bagaimana mungkin ada roti yang sepahit kopi hitam, serta minuman yang rasanya seperti roti? Alain telah mempersiapkan sistem perasa dan sensor suhu yang identik dengan milik manusia untuknya, lalu bagaimana cara ia memverifikasi bahwa fungsi-fungsi ini dapat berjalan dengan stabil dalam jangka panjang di suhu rendah?
Ketua cabang yang terlalu ramah itu masih terus bercerita tentang petualangannya di bangsa asing, sesekali menyelipkan pujian untuknya, menyebut bahwa seorang wanita terpelajar seperti dirinya adalah sosok yang langka bahkan di mata para petualang berpengalaman, dan sungguh sayang jika ia hanya membantu memperbaiki kesalahan struktur bangunan di sini.
Maka, Nona Guillotin pun meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong dan memutuskan untuk mencoba minuman berasa roti itu.
Di sebuah meja di tengah salju dan es yang membeku, ia berkenalan dengan komandan tertinggi Fatui.
Saat itu ia sedang Berpikir tentang seberapa tua halaman tua itu, sambil memperhatikan seekor Volkodlak yang lebih kikuk dari Pulonia mencoba menyeimbangkan nampan penuh gelas-gelas anggur yang hampir tumpah. Di tengah situasi yang nyaris kacau itu, sosok bertopeng menggambarkan kepadanya sebuah cita-cita untuk menyelamatkan dunia.
Ia berkata bahwa takdir yang tidak masuk akal adalah belenggu yang perlu dihancurkan, dan memusnahkan dunia lama sama artinya dengan menyelamatkannya.
Takdir dan penyelamatan dunia adalah topik yang sudah pernah ia dengar, namun kini terasa agak dibuat-buat. Ah, Alain ... pikirnya. Kau menganugerahiku jiwa yang bebas dan unggul, tapi pernahkah kau memikirkan apa yang akan aku lakukan dengannya? Namun segera setelah itu ia Berpikir, ini memang bukan sesuatu yang seharusnya Alain pikirkan, melainkan persoalan hidupnya sendiri.
Kisah tentang pahlawan yang menggenggam pedang suci dan naga yang entah layak atau tidak untuk dikalahkan semuanya sudah menjadi kisah masa lalu, namun dunia ini ternyata masih menunggu untuk diselamatkan.
Tidak lama setelahnya, ia mulai dikenal sebagai "Marionette" atau Sandrone, beserta tanggung jawab yang sepadan. Di waktu senggang, ia kembali duduk di kursi yang sudah tidak asing lagi, memandang dari jauh ke jendela Adventurers' Guild. Resepsionis bernama Katheryne berdiri dengan anggun, seolah tidak pernah terganggu oleh badai salju musim dingin.
Ada seseorang yang menempelkan brosur pertunjukan teater di papan pengumuman terdekat, juga poster rekrutmen Fatui. Poster tersebut dihiasi bunga-bunga merah menyala, lebih cerah dari rok penari para aktris, yakni lencana yang dijanjikan bagi mereka yang berdedikasi. Sejak mengetahui makna sesungguhnya dari Adventurers' Guild di kedalaman Snezhnaya, Sandrone tidak lagi merasa heran dengan semua itu. Fatui sedang membesarkan makhluk raksasa bernama ambisi, dan bakat serta informasi adalah nutrisi yang mutlak dibutuhkannya.
Kadang-kadang, dalam sekilas lamunannya, ia merasa dirinya sendiri pun berada di tengah semua itu.
Perjalanan dari Fontaine ke Snezhnaya menghabiskan banyak waktu dan tenaganya, sebagian besar dihabiskan di padang salju. Cuaca jauh lebih dingin dari perkiraan, namun jalanannya tidak sesulit yang dibayangkan—hal yang justru memperlambat perjalanannya hanyalah tempat aneh ini. Ia menyaksikan seseorang melompat telanjang dada dari pohon setinggi lebih dari sepuluh meter ke tumpukan salju, lalu melihat anak-anak berlari di atas danau beku, berlomba siapa yang paling cepat menginjak lapisan es hingga pecah dan jatuh ke dalam air. Orang yang tidak beruntung adalah pemenangnya, jadi orang yang tidak beruntung itu justru yang menjadi paling bahagia. Semua ini bahkan lebih sulit dipahami daripada kisah kecil Alain tentang pahlawan yang melawan naga—karena tidak ada makna yang terlihat, namun tetap membuatnya merasa sangat penasaran.
Beberapa bulan lalu, ia duduk di bangku panjang di Court of Fontaine sambil memegang cangkir teh, memandang gedung di seberang yang sedang direnovasi melalui udara lembap berkabut, menghabiskan waktu dengan mencari-cari kesalahan tim konstruksi. Orang yang bertugas mengawasi pekerjaan itu tidak merasa kesal, justru menyampaikan terima kasih padanya, sehingga meninggalkan kesan yang cukup baik, dan karenanya ia membiarkan orang itu mengobrol sendiri sesuka hati. Orang yang mengaku sebagai ketua cabang suatu asosiasi itu berbicara dengan nada yang datar dan tenang, membuatnya mengantuk. Ini sebenarnya kesempatan bagus untuk beristirahat, sayang sekali sejak Alain pergi, ia selalu memiliki terlalu banyak waktu untuk melamun dan tertidur, serta sudah terbiasa menangani urusan-urusan sepele di luar penelitian dalam keadaan setengah tidur.
Misalnya saja, Palais Mermonia telah mengeluarkan sejumlah besar uang santunan untuk Duke__ Alain Guillotin, dan ia tidak ingin menjadi seperti si kikir yang memeluk Mora-nya hingga mati di tempat—karena jelas ia tidak akan mati karena usia tua—dan ia pun tidak ingin berubah menjadi kisah horor ratusan tahun kemudian tentang rubanah yang dihuni boneka berhantu. Ia pernah mendengar bahwa bank di dekat sana menawarkan solusi pengelolaan keuangan yang cukup baik, namun bank dari bangsa asing itu sendiri terasa seperti jebakan, dan sebesar apa pun pujian wakil ketua asosiasi di sebelahnya tentang kedermawanan pendanaan bank tersebut, tetap saja tidak bisa meyakinkan Nona Guillotin yang cerdas itu.
Misalnya lagi, bagaimana mungkin ada roti yang sepahit kopi hitam, serta minuman yang rasanya seperti roti? Alain telah mempersiapkan sistem perasa dan sensor suhu yang identik dengan milik manusia untuknya, lalu bagaimana cara ia memverifikasi bahwa fungsi-fungsi ini dapat berjalan dengan stabil dalam jangka panjang di suhu rendah?
Ketua cabang yang terlalu ramah itu masih terus bercerita tentang petualangannya di bangsa asing, sesekali menyelipkan pujian untuknya, menyebut bahwa seorang wanita terpelajar seperti dirinya adalah sosok yang langka bahkan di mata para petualang berpengalaman, dan sungguh sayang jika ia hanya membantu memperbaiki kesalahan struktur bangunan di sini.
Maka, Nona Guillotin pun meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong dan memutuskan untuk mencoba minuman berasa roti itu.
Di sebuah meja di tengah salju dan es yang membeku, ia berkenalan dengan komandan tertinggi Fatui.
Saat itu ia sedang Berpikir tentang seberapa tua halaman tua itu, sambil memperhatikan seekor Volkodlak yang lebih kikuk dari Pulonia mencoba menyeimbangkan nampan penuh gelas-gelas anggur yang hampir tumpah. Di tengah situasi yang nyaris kacau itu, sosok bertopeng menggambarkan kepadanya sebuah cita-cita untuk menyelamatkan dunia.
Ia berkata bahwa takdir yang tidak masuk akal adalah belenggu yang perlu dihancurkan, dan memusnahkan dunia lama sama artinya dengan menyelamatkannya.
Takdir dan penyelamatan dunia adalah topik yang sudah pernah ia dengar, namun kini terasa agak dibuat-buat. Ah, Alain ... pikirnya. Kau menganugerahiku jiwa yang bebas dan unggul, tapi pernahkah kau memikirkan apa yang akan aku lakukan dengannya? Namun segera setelah itu ia Berpikir, ini memang bukan sesuatu yang seharusnya Alain pikirkan, melainkan persoalan hidupnya sendiri.
Kisah tentang pahlawan yang menggenggam pedang suci dan naga yang entah layak atau tidak untuk dikalahkan semuanya sudah menjadi kisah masa lalu, namun dunia ini ternyata masih menunggu untuk diselamatkan.
Tidak lama setelahnya, ia mulai dikenal sebagai "Marionette" atau Sandrone, beserta tanggung jawab yang sepadan. Di waktu senggang, ia kembali duduk di kursi yang sudah tidak asing lagi, memandang dari jauh ke jendela Adventurers' Guild. Resepsionis bernama Katheryne berdiri dengan anggun, seolah tidak pernah terganggu oleh badai salju musim dingin.
Ada seseorang yang menempelkan brosur pertunjukan teater di papan pengumuman terdekat, juga poster rekrutmen Fatui. Poster tersebut dihiasi bunga-bunga merah menyala, lebih cerah dari rok penari para aktris, yakni lencana yang dijanjikan bagi mereka yang berdedikasi. Sejak mengetahui makna sesungguhnya dari Adventurers' Guild di kedalaman Snezhnaya, Sandrone tidak lagi merasa heran dengan semua itu. Fatui sedang membesarkan makhluk raksasa bernama ambisi, dan bakat serta informasi adalah nutrisi yang mutlak dibutuhkannya.
Kadang-kadang, dalam sekilas lamunannya, ia merasa dirinya sendiri pun berada di tengah semua itu.
Glory to Your Legacy
No description No story
Glory to Your Legacy
No description Secara teori, selain Belyi Tsar yang menerima otoritas ilahi dari langit, para peri lainnya tidak perlu menanggung tanggung jawab untuk mengasihi manusia. Namun, hal ini jelas tidak menghalangi sebagian peri yang mendambakan kehidupan manusia, seolah-olah melintasi tanah beku dengan bebas tidak ada kesenangannya, dan justru meringkuk dalam mantel tebal sembari bersusah payah menyalakan api terasa lebih layak untuk dinikmati.
Secara faktual, 米尔科__ memang secara sukarela memasuki dunia manusia. Namun ia tidak akan pernah menyebut dirinya sendiri mencintai atau mengagumi manusia—ia hanya akan berkata bahwa ini adalah pilihan yang cukup visioner.
Ia sering mengamati berbagai hal dan menarik sejumlah kesimpulan. Misalnya, mengkaji komposisi suatu kelompok hingga ke tingkat individu cenderung sangat rumit, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga golongan: yang paling muda, yang paling tua, dan sekumpulan yang paling tak tertolong di antaranya.
Peri, atau makhluk lainnya, yang masih muda biasanya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup kuat, sering kali dibentuk oleh lingkungan, dan menyebutnya sebagai menemukan jati diri serta makna hidup. Mereka dengan penuh semangat bergabung ke dalam angkatan bersenjata atau terjun ke dunia penelitian, berkontribusi secara nyata demi kejayaan sang Tsaritsa.
Namun begitu usia melampaui ambang batas tertentu yang sangat besar, mereka pun menunjukkan sikap lain yang ikut arus dan penuh keambiguan. Sebagai contoh, ketika Tsaritsa naik takhta, salah satu surat ucapan selamat pertama yang diterima justru berasal dari ujung utara yang nyaris tak terjamah manusia. Kalau bukan karena nama penandatangannya yang memang termasuk dalam jajaran bangsawan, orang pasti akan meragukan apakah si pengirim masih hidup.
Sedangkan kelompok yang berada di tengah, mungkin karena tidak mau percaya bahwa Yang Mulia Agung mereka tewas dalam bencana, atau tidak mau menerima kenyataan bahwa kekuasaan kerajaan tidak lagi berada di tangan suku mereka sendiri, kemarahan mereka pun benar-benar membara dengan hebat untuk sesaat. Menertawakan sesama biasanya dianggap tindakan rendah, tapi 米尔科__ memang tidak bisa menahannya. Dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi; bagaimanapun juga, dalam penilaian terhadap seorang politikus, "rendah" masih tergolong penilaian yang sangat ringan. Ditambah dengan pandangan jauh ke depan, hal itu justru berubah menjadi sebuah kelebihan yang disebut kepandaian membaca situasi.
米尔科__ berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk mengajukan diri bergabung dengan Fatui.
Kalau Tsaritsa tidak dapat melihat maksudnya, 米尔科__ justru akan merasa kecewa. Kita sementara masih menggolongkan sang penyihir itu ke dalam kategori manusia, maka organisasi yang menamakan dirinya Si Pandir belum memberikan jatah bagi para peri. 米尔科__ tidak akan memperindah motivasinya seolah-olah ia berjuang demi hak seluruh peri—ia hanya berpikir, jika dunia baru akan segera lahir, ia tidak ingin tidak ada tempat yang disisihkan untuknya di sana.
Menanggapi lamarannya, Fatui memberikan balasan yang sangat singkat dan padat. "Tuan Milko·Raduveydvich·Vilesek__", ia membaca namanya sendiri dalam hati, "silakan melapor ke wali kota."
Wali kota Ioanna Ivanovna juga menjabat sebagai Ketua Snezhnograd Veche, sehingga orang-orang pun memaknainya secara berbeda-beda. Orang luar mungkin berpendapat bahwa membuat seorang peri tunduk menjadi murid seorang manusia adalah peringatan dari Tsaritsa kepada era lama. Sementara "Pulcinella" yang rela menanggung penghinaan seperti itu demi meraih kursi di Fatui, entah itu karena keserakahan atau karena kemampuannya untuk bertahan dalam situasi sulit.
Tentu saja, seorang politikus yang berpikiran jauh ke depan tidak akan gegabah menolak penilaian-penilaian tersebut. Ambisinya memang terbukti ada, buktinya ia sangat dipercaya oleh Ketua Ivanovna, sehingga ia berpeluang menjadi penerus jabatan itu. Namun ia pun tak sedikit menelan rasa sakit hati, sebab Nona Ivanovna adalah seseorang yang sangat mahir menulis pandangan dunia penuh konspirasi sambil menghapus jejaknya sendiri, dan Pulcinella—mungkin karena kakinya terlalu pendek—pada awalnya selalu kesulitan mengikuti jalan pikirannya.
Jadi secara keseluruhan, Pulcinella memang telah banyak belajar dari manusia—hal-hal seperti kesetiaan dan adu domba, berstrategi dan berpura-pura berstrategi, serta juga soal temperamen buruk dan cara menyembunyikannya. Hal ini menjadikannya mampu memimpin rapat dewan dengan tenang di satu sisi, sementara di sisi lain ia sangat ingin menusuk betis Pantalone dengan tombak panjang. Dalam urusan melobi Adventurers' Guild, ia memang berada di posisi yang kurang menguntungkan—mau bagaimana lagi, sebagian besar pekerjaannya memang berada di dalam wilayah Snezhnaya. Tunggu saja, pikirnya dengan penuh amarah, meski ketua resminya adalah orang gila yang selalu tersenyum itu, ia tidak akan membiarkan uang dan kekuasaan semuanya mengalir masuk ke kantong orang itu.
Selain itu, manusia memang telah memengaruhi beberapa kebiasaan Tuan Domovoy ini. Setelah Nona Ivanovna meninggal dunia, Pulcinella tanpa sadar mulai berpikir tentang penerusnya sendiri. Hal ini terasa agak janggal, karena selama ia cukup berhati-hati, ia mungkin bisa hidup hingga akhir zaman. Mungkin suatu hari ia akan merasa jenuh, jenuh menghadapi rekan-rekan aneh yang selalu menuntut akalnya setiap hari, namun cita-cita yang pernah dikisahkan Tsaritsa kepada mereka sejalan dengan visi yang lebih agung dalam hatinya, dan ia setidaknya harus bertahan hingga hari cita-cita itu terwujud, bukan?
Tentu saja, tidak lagi memikirkan soal penerus tidak menghalanginya untuk, jauh di kemudian hari, memperhatikan seorang pemuda. Ajax jelas tidak memiliki semua kualitas untuk menjadi seorang politikus, karena pertama-tama ia sudah memiliki seorang guru yang telah lama ditetapkan dan tidak berniat menjadi murid siapa pun lagi; selain itu, jika harus memilihkan seseorang untuk membimbingnya, jelas Capitano akan jauh lebih tepat.
Maka, seperti halnya Nona Ivanovna yang pernah mengamati perubahan dalam dirinya, Pulcinella pun mengamati pertumbuhan "Childe". Setelah suatu rapat pagi berakhir, ia secara tersirat menyinggung hal ini kepada Capitano yang akan segera berangkat ke Natlan, dan keesokan harinya, dari kejauhan ia sudah bisa melihat senyum Tartaglia yang riang gembira.
"Lihat cepat! Aku baru saja pergi berpamitan dengan 'Capitano', dan beliau memberiku ini..."
Pulcinella langsung mengenali benda di dalam kotak itu. Itu adalah pena bulu yang dulu dibagikan kepada para prajurit pada tahun-tahun awal Fatui membuka rekrutmen militer ke luar. Meski telah berlalu ratusan tahun, warnanya sama sekali tidak memudar. Jelas selama ini disimpan dengan sangat hati-hati.
Pulcinella mengangguk dengan wajah penuh kelembutan. Seperti masa depan yang terus diserahkan, ini pun merupakan bagian dari visi jauh ke depan.
Secara faktual, 米尔科__ memang secara sukarela memasuki dunia manusia. Namun ia tidak akan pernah menyebut dirinya sendiri mencintai atau mengagumi manusia—ia hanya akan berkata bahwa ini adalah pilihan yang cukup visioner.
Ia sering mengamati berbagai hal dan menarik sejumlah kesimpulan. Misalnya, mengkaji komposisi suatu kelompok hingga ke tingkat individu cenderung sangat rumit, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga golongan: yang paling muda, yang paling tua, dan sekumpulan yang paling tak tertolong di antaranya.
Peri, atau makhluk lainnya, yang masih muda biasanya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup kuat, sering kali dibentuk oleh lingkungan, dan menyebutnya sebagai menemukan jati diri serta makna hidup. Mereka dengan penuh semangat bergabung ke dalam angkatan bersenjata atau terjun ke dunia penelitian, berkontribusi secara nyata demi kejayaan sang Tsaritsa.
Namun begitu usia melampaui ambang batas tertentu yang sangat besar, mereka pun menunjukkan sikap lain yang ikut arus dan penuh keambiguan. Sebagai contoh, ketika Tsaritsa naik takhta, salah satu surat ucapan selamat pertama yang diterima justru berasal dari ujung utara yang nyaris tak terjamah manusia. Kalau bukan karena nama penandatangannya yang memang termasuk dalam jajaran bangsawan, orang pasti akan meragukan apakah si pengirim masih hidup.
Sedangkan kelompok yang berada di tengah, mungkin karena tidak mau percaya bahwa Yang Mulia Agung mereka tewas dalam bencana, atau tidak mau menerima kenyataan bahwa kekuasaan kerajaan tidak lagi berada di tangan suku mereka sendiri, kemarahan mereka pun benar-benar membara dengan hebat untuk sesaat. Menertawakan sesama biasanya dianggap tindakan rendah, tapi 米尔科__ memang tidak bisa menahannya. Dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi; bagaimanapun juga, dalam penilaian terhadap seorang politikus, "rendah" masih tergolong penilaian yang sangat ringan. Ditambah dengan pandangan jauh ke depan, hal itu justru berubah menjadi sebuah kelebihan yang disebut kepandaian membaca situasi.
米尔科__ berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk mengajukan diri bergabung dengan Fatui.
Kalau Tsaritsa tidak dapat melihat maksudnya, 米尔科__ justru akan merasa kecewa. Kita sementara masih menggolongkan sang penyihir itu ke dalam kategori manusia, maka organisasi yang menamakan dirinya Si Pandir belum memberikan jatah bagi para peri. 米尔科__ tidak akan memperindah motivasinya seolah-olah ia berjuang demi hak seluruh peri—ia hanya berpikir, jika dunia baru akan segera lahir, ia tidak ingin tidak ada tempat yang disisihkan untuknya di sana.
Menanggapi lamarannya, Fatui memberikan balasan yang sangat singkat dan padat. "Tuan Milko·Raduveydvich·Vilesek__", ia membaca namanya sendiri dalam hati, "silakan melapor ke wali kota."
Wali kota Ioanna Ivanovna juga menjabat sebagai Ketua Snezhnograd Veche, sehingga orang-orang pun memaknainya secara berbeda-beda. Orang luar mungkin berpendapat bahwa membuat seorang peri tunduk menjadi murid seorang manusia adalah peringatan dari Tsaritsa kepada era lama. Sementara "Pulcinella" yang rela menanggung penghinaan seperti itu demi meraih kursi di Fatui, entah itu karena keserakahan atau karena kemampuannya untuk bertahan dalam situasi sulit.
Tentu saja, seorang politikus yang berpikiran jauh ke depan tidak akan gegabah menolak penilaian-penilaian tersebut. Ambisinya memang terbukti ada, buktinya ia sangat dipercaya oleh Ketua Ivanovna, sehingga ia berpeluang menjadi penerus jabatan itu. Namun ia pun tak sedikit menelan rasa sakit hati, sebab Nona Ivanovna adalah seseorang yang sangat mahir menulis pandangan dunia penuh konspirasi sambil menghapus jejaknya sendiri, dan Pulcinella—mungkin karena kakinya terlalu pendek—pada awalnya selalu kesulitan mengikuti jalan pikirannya.
Jadi secara keseluruhan, Pulcinella memang telah banyak belajar dari manusia—hal-hal seperti kesetiaan dan adu domba, berstrategi dan berpura-pura berstrategi, serta juga soal temperamen buruk dan cara menyembunyikannya. Hal ini menjadikannya mampu memimpin rapat dewan dengan tenang di satu sisi, sementara di sisi lain ia sangat ingin menusuk betis Pantalone dengan tombak panjang. Dalam urusan melobi Adventurers' Guild, ia memang berada di posisi yang kurang menguntungkan—mau bagaimana lagi, sebagian besar pekerjaannya memang berada di dalam wilayah Snezhnaya. Tunggu saja, pikirnya dengan penuh amarah, meski ketua resminya adalah orang gila yang selalu tersenyum itu, ia tidak akan membiarkan uang dan kekuasaan semuanya mengalir masuk ke kantong orang itu.
Selain itu, manusia memang telah memengaruhi beberapa kebiasaan Tuan Domovoy ini. Setelah Nona Ivanovna meninggal dunia, Pulcinella tanpa sadar mulai berpikir tentang penerusnya sendiri. Hal ini terasa agak janggal, karena selama ia cukup berhati-hati, ia mungkin bisa hidup hingga akhir zaman. Mungkin suatu hari ia akan merasa jenuh, jenuh menghadapi rekan-rekan aneh yang selalu menuntut akalnya setiap hari, namun cita-cita yang pernah dikisahkan Tsaritsa kepada mereka sejalan dengan visi yang lebih agung dalam hatinya, dan ia setidaknya harus bertahan hingga hari cita-cita itu terwujud, bukan?
Tentu saja, tidak lagi memikirkan soal penerus tidak menghalanginya untuk, jauh di kemudian hari, memperhatikan seorang pemuda. Ajax jelas tidak memiliki semua kualitas untuk menjadi seorang politikus, karena pertama-tama ia sudah memiliki seorang guru yang telah lama ditetapkan dan tidak berniat menjadi murid siapa pun lagi; selain itu, jika harus memilihkan seseorang untuk membimbingnya, jelas Capitano akan jauh lebih tepat.
Maka, seperti halnya Nona Ivanovna yang pernah mengamati perubahan dalam dirinya, Pulcinella pun mengamati pertumbuhan "Childe". Setelah suatu rapat pagi berakhir, ia secara tersirat menyinggung hal ini kepada Capitano yang akan segera berangkat ke Natlan, dan keesokan harinya, dari kejauhan ia sudah bisa melihat senyum Tartaglia yang riang gembira.
"Lihat cepat! Aku baru saja pergi berpamitan dengan 'Capitano', dan beliau memberiku ini..."
Pulcinella langsung mengenali benda di dalam kotak itu. Itu adalah pena bulu yang dulu dibagikan kepada para prajurit pada tahun-tahun awal Fatui membuka rekrutmen militer ke luar. Meski telah berlalu ratusan tahun, warnanya sama sekali tidak memudar. Jelas selama ini disimpan dengan sangat hati-hati.
Pulcinella mengangguk dengan wajah penuh kelembutan. Seperti masa depan yang terus diserahkan, ini pun merupakan bagian dari visi jauh ke depan.
Time Gifted Unto You
No description No story
Time Gifted Unto You
No description Hampir bersamaan dengan saat iklan rekrutmen mulai ditempel di berbagai papan pengumuman di seluruh Snezhnaya, Pulcinella menyiapkan beberapa ruangan yang tenang dan nyaman untuk dijadikan ruang konsultasi psikologi.
Ruang konseling psikologis adalah sebutan internal; di luar, tempat ini biasanya disebut "ruang pertemuan" atau "ruangan kecil", seolah-olah membutuhkan konseling psikologis adalah semacam penyakit yang harus disembunyikan. Ada pula sebutan lain, yaitu "ruang gelap", entah siapa yang pertama kali menyebutnya begitu, dan Capitano sangat menentang penyebutan tersebut.
Pada awalnya, Fatui melatih konselor psikologi yang cukup profesional untuk menangani berbagai masalah. Namun dalam praktiknya, banyak prajurit yang tidak mau membuka diri kepada orang asing. Mereka lebih memilih mencari bantuan dari orang yang dipercaya, untuk menceritakan kisah-kisah yang tidak ingin mereka ungkap ke publik di lingkungan yang bebas dari gangguan. Atau terkadang, sekadar menangis sepuasnya.
Maka Pulcinella yang baik hati pun melonggarkan ketentuannya sedikit—siapa pun yang sudah membuat janji bisa mengobrol berjam-jam di sana bersama rekan yang telah mereka ajak. Para Harbinger tentu saja juga menikmati hak ini. Capitano pernah secara tidak sengaja melihat Signora keluar dari sana sambil menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak, diikuti Pulcinella yang dengan sigap mengangkat tinggi-tinggi tas tangannya. Ia tidak berniat mengintip urusan pribadi Signora, dan sang Wali Kota pun adalah seseorang yang pandai menjaga rahasia—keduanya tidak pernah menyebut kejadian itu lagi.
Suatu ketika, ia kembali menyaksikan hal serupa—pada suatu malam, ia melihat Dottore dan Pantalone keluar bersama dari lantai itu dengan wajah sumringah. Tak lama kemudian, Pulcinella pun memarahi keduanya habis-habisan ("Mereka mau mengobrol di mana saja bisa, kenapa harus pakai fasilitas umum?!"), lalu mengumumkan akan mengambil tindakan tegas ("Suruh penanggung jawabnya tolak mentah-mentah permohonan dua bajingan itu lain kali!"). Sayangnya, keduanya tidak pernah memesan ruang konsultasi lagi, sehingga tinju yang sudah Pulcinella siapkan hanya menghantam angin, dan ia pun tak urung kembali menahan kesal dalam hati.
Capitano tidak tahu harus berkata apa. Setelahnya, ia membelikan Pulcinella sebotol anggur berkualitas baik, tanpa pernah bertanya apakah anggur itu akhirnya diminum atau tidak.
Di antara kehidupan pribadi rekan-rekannya, Capitano bagaikan orang yang tak terlihat. Ada atau tidaknya dia, tidak memengaruhi orang lain untuk mengobrol, kecuali jika topik yang dibahas terlalu panas. Capitano tidak akan pernah mengadu, itulah kesepakatan bersama. Kadang-kadang dia merasa dirinya sendiri tak ubahnya sebuah ruang pertemuan bergerak, yang dengan tenang merekam semua bisik-bisikan itu.
Ia tidak merasa terganggu oleh kebisingan itu, sebab ia telah menjalani pelatihan panjang—jantungnya sendiri kadang-kadang lebih berisik dari rekan-rekannya. Duduk di ruang konsultasi, ia merasa seperti sebuah ruangan kecil yang bersarang dalam ruangan lain, lalu ruangan lain lagi ... hingga jiwanya sendiri terjepit tepat di tengah, tersudut dari segala penjuru.
Ruang konsultasi itu tidak terlalu besar, dengan tirai tebal yang ditarik. Bukan karena Pulcinella terlalu pelit, melainkan karena ada pendapat yang mengatakan bahwa ketika orang berada di lingkungan yang sempit dan Menghangatkan, mereka akan lebih mudah membangun kepercayaan satu sama lain. Capitano tidak tahu dari mana teori itu berasal, berpikir sejenak, lalu melepas helmnya dan meletakkannya perlahan di sisi.
Saat itu wajahnya belum semengerikan sekarang—hanya ada bekas luka yang sulit sembuh, lebih banyak dari biasanya, namun dalam cahaya redup ruangan itu belum sampai terlihat menyeramkan. Yang mengundangnya berbicara adalah salah satu murid yang pernah ditempa olehnya, dan setelah lulus bergabung dengan kompi khusus. Capitano sudah mengetahui apa yang terjadi pada kompi muridnya itu, sehingga sudah bisa memperkirakan isi pembicaraan mereka. Kompi itu dikirim ke daerah terpencil untuk memadamkan kerusuhan—seharusnya misi yang cukup mudah—namun para penyintas yang kembali semuanya tampak seperti kehilangan jiwa. Pada akhirnya, tak ada pilihan lain selain meminta Dottore datang, dan barulah masalah itu bisa diselesaikan.
Saat itu Capitano berada di dekatnya dan bertanya karena rasa tanggung jawab: "Obat apa yang kamu berikan kepada mereka?"
"Ini?" Dottore langsung mengeluarkan sebotol kaca tersegel dan dengan murah hati memberikannya, "Obat penenang yang mujarab".
Benda itu kini masih ada di sakunya, dan ia berharap tidak perlu memakainya hari ini. Prajurit di hadapannya tampak sangat lesu, membuka dan menutup jam sakunya dengan satu-satunya tangan yang tersisa, lalu membukanya kembali, seolah sedang memverifikasi laju aliran waktu.
"Meskipun banyak orang yang masih tidak percaya sampai sekarang, aku menjamin semua yang tertulis di laporan itu adalah kebenaran." ujar sang prajurit dengan senyum pahit, "Orang-orang di tempat itu sama sekali tidak mengenal Tsaritsa, bahkan mengira kita masih hidup di zaman Belyi Tsar. Awalnya mereka memaki kami sebagai anjing suruhan peri, sebagai monster bermata empat, menyiram kami dengan air, dan mengklaim hendak menyucikan kami dari dosa pengkhianatan dan kepercayaan palsu kami ..."
"Ya, situasinya sungguh konyol pada awalnya! Pihak sana bahkan tidak punya senjata yang layak, ada yang di sisiku sampai tertawa terbahak-bahak. Pemimpin regu perlahan mendekat, mencoba menjelaskan dengan nalar, memberitahu mereka bahwa ini sudah era manusia, kita tidak perlu lagi ..."
"Lalu kemudian ... kemudian ...."
Capitano membaca laporan itu. Laporan tersebut merupakan catatan yang ditinggalkan oleh para penyintas setelah mereka sadar, dan Dottore menambahkan beberapa penjelasan setelah melakukan pemeriksaan fisik terhadap mereka. Penduduk setempat mengalami histeria massal yang disebabkan oleh virus akibat kanibalisme dalam jangka panjang—begitulah kesimpulan yang ia buat. Para prajurit yang dikirim untuk menumpas kerusuhan akhirnya mengalami gejala yang sama setelah terpapar sumber air yang terkontaminasi, meskipun tingkat infeksinya lebih ringan dan masih bisa diselamatkan. Setelah itu, Dottore mengeluarkan rencana pengobatan baru, mengamati efek obatnya dengan tangan di belakang punggung—penampilannya seperti seorang dokter sungguhan.
Sangat masuk akal. Sang "Dokter" merapikan kacamatanya, menyipitkan mata dengan tampang yang mengingatkan pada seseorang. Hidup di tempat yang begitu terpencil dan lingkungannya sangat buruk, tidak bisa mengharapkan mereka punya makanan lain untuk dimakan. Capitano mendengarnya sambil menghela napas, tidak ingin membuang waktu untuk membantah kata-kata yang dingin namun benar itu. Siapa yang tenggorokannya digigit putus, siapa lengannya yang masuk ke perut siapa—apakah itu masalah yang bisa dijelaskan hanya dengan kata "masuk akal"?
"Sudahlah." Sang prajurit tiba-tiba memotong pembicaraan, sekaligus memutus lamunan Capitano. "Konselor psikologiku bilang kalau suatu hari aku bisa menceritakan semua kejadian saat itu dengan tenang, itu berarti aku sudah pulih. Omong kosong belaka! ... Maaf." Ia segera menundukkan kepala meminta maaf, lalu melirik jam sakunya. "Aku hanya membuat janji selama satu jam, tidak ingin membuang terlalu banyak waktu Anda—sebenarnya, aku hanya datang untuk berpamitan."
Setelah sang prajurit pergi, Capitano memandangi benda-benda yang ditinggalkannya: sebuah lencana bunga merah, pena bulu dan botol anggur yang selalu dibawa, helm yang telah diperbaiki hingga tampak hampir seperti baru, serta jam saku yang entah sengaja ditinggalkan atau terlupa dibawa. Capitano menduga benda-benda itu tidak berasal dari satu orang yang sama, hanya kebetulan berkumpul di sini. "Aku harap benda-benda ini bisa disimpan oleh Tuan 'Capitano'," demikian kata sang prajurit yang telah memutuskan untuk pensiun, "atau tuan juga bisa mewariskannya kepada penerus Anda, dengan harapan mereka bisa sedikit lebih beruntung dari kami, atau ... sedikit lebih tegar."
Seharusnya tidak berpikir seperti itu. Capitano merenungkan kata-kata yang tidak sempat terucap.
Sebenarnya, orang yang mampu bertahan hidup sudah cukup kuat.
Ruang konseling psikologis adalah sebutan internal; di luar, tempat ini biasanya disebut "ruang pertemuan" atau "ruangan kecil", seolah-olah membutuhkan konseling psikologis adalah semacam penyakit yang harus disembunyikan. Ada pula sebutan lain, yaitu "ruang gelap", entah siapa yang pertama kali menyebutnya begitu, dan Capitano sangat menentang penyebutan tersebut.
Pada awalnya, Fatui melatih konselor psikologi yang cukup profesional untuk menangani berbagai masalah. Namun dalam praktiknya, banyak prajurit yang tidak mau membuka diri kepada orang asing. Mereka lebih memilih mencari bantuan dari orang yang dipercaya, untuk menceritakan kisah-kisah yang tidak ingin mereka ungkap ke publik di lingkungan yang bebas dari gangguan. Atau terkadang, sekadar menangis sepuasnya.
Maka Pulcinella yang baik hati pun melonggarkan ketentuannya sedikit—siapa pun yang sudah membuat janji bisa mengobrol berjam-jam di sana bersama rekan yang telah mereka ajak. Para Harbinger tentu saja juga menikmati hak ini. Capitano pernah secara tidak sengaja melihat Signora keluar dari sana sambil menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak, diikuti Pulcinella yang dengan sigap mengangkat tinggi-tinggi tas tangannya. Ia tidak berniat mengintip urusan pribadi Signora, dan sang Wali Kota pun adalah seseorang yang pandai menjaga rahasia—keduanya tidak pernah menyebut kejadian itu lagi.
Suatu ketika, ia kembali menyaksikan hal serupa—pada suatu malam, ia melihat Dottore dan Pantalone keluar bersama dari lantai itu dengan wajah sumringah. Tak lama kemudian, Pulcinella pun memarahi keduanya habis-habisan ("Mereka mau mengobrol di mana saja bisa, kenapa harus pakai fasilitas umum?!"), lalu mengumumkan akan mengambil tindakan tegas ("Suruh penanggung jawabnya tolak mentah-mentah permohonan dua bajingan itu lain kali!"). Sayangnya, keduanya tidak pernah memesan ruang konsultasi lagi, sehingga tinju yang sudah Pulcinella siapkan hanya menghantam angin, dan ia pun tak urung kembali menahan kesal dalam hati.
Capitano tidak tahu harus berkata apa. Setelahnya, ia membelikan Pulcinella sebotol anggur berkualitas baik, tanpa pernah bertanya apakah anggur itu akhirnya diminum atau tidak.
Di antara kehidupan pribadi rekan-rekannya, Capitano bagaikan orang yang tak terlihat. Ada atau tidaknya dia, tidak memengaruhi orang lain untuk mengobrol, kecuali jika topik yang dibahas terlalu panas. Capitano tidak akan pernah mengadu, itulah kesepakatan bersama. Kadang-kadang dia merasa dirinya sendiri tak ubahnya sebuah ruang pertemuan bergerak, yang dengan tenang merekam semua bisik-bisikan itu.
Ia tidak merasa terganggu oleh kebisingan itu, sebab ia telah menjalani pelatihan panjang—jantungnya sendiri kadang-kadang lebih berisik dari rekan-rekannya. Duduk di ruang konsultasi, ia merasa seperti sebuah ruangan kecil yang bersarang dalam ruangan lain, lalu ruangan lain lagi ... hingga jiwanya sendiri terjepit tepat di tengah, tersudut dari segala penjuru.
Ruang konsultasi itu tidak terlalu besar, dengan tirai tebal yang ditarik. Bukan karena Pulcinella terlalu pelit, melainkan karena ada pendapat yang mengatakan bahwa ketika orang berada di lingkungan yang sempit dan Menghangatkan, mereka akan lebih mudah membangun kepercayaan satu sama lain. Capitano tidak tahu dari mana teori itu berasal, berpikir sejenak, lalu melepas helmnya dan meletakkannya perlahan di sisi.
Saat itu wajahnya belum semengerikan sekarang—hanya ada bekas luka yang sulit sembuh, lebih banyak dari biasanya, namun dalam cahaya redup ruangan itu belum sampai terlihat menyeramkan. Yang mengundangnya berbicara adalah salah satu murid yang pernah ditempa olehnya, dan setelah lulus bergabung dengan kompi khusus. Capitano sudah mengetahui apa yang terjadi pada kompi muridnya itu, sehingga sudah bisa memperkirakan isi pembicaraan mereka. Kompi itu dikirim ke daerah terpencil untuk memadamkan kerusuhan—seharusnya misi yang cukup mudah—namun para penyintas yang kembali semuanya tampak seperti kehilangan jiwa. Pada akhirnya, tak ada pilihan lain selain meminta Dottore datang, dan barulah masalah itu bisa diselesaikan.
Saat itu Capitano berada di dekatnya dan bertanya karena rasa tanggung jawab: "Obat apa yang kamu berikan kepada mereka?"
"Ini?" Dottore langsung mengeluarkan sebotol kaca tersegel dan dengan murah hati memberikannya, "Obat penenang yang mujarab".
Benda itu kini masih ada di sakunya, dan ia berharap tidak perlu memakainya hari ini. Prajurit di hadapannya tampak sangat lesu, membuka dan menutup jam sakunya dengan satu-satunya tangan yang tersisa, lalu membukanya kembali, seolah sedang memverifikasi laju aliran waktu.
"Meskipun banyak orang yang masih tidak percaya sampai sekarang, aku menjamin semua yang tertulis di laporan itu adalah kebenaran." ujar sang prajurit dengan senyum pahit, "Orang-orang di tempat itu sama sekali tidak mengenal Tsaritsa, bahkan mengira kita masih hidup di zaman Belyi Tsar. Awalnya mereka memaki kami sebagai anjing suruhan peri, sebagai monster bermata empat, menyiram kami dengan air, dan mengklaim hendak menyucikan kami dari dosa pengkhianatan dan kepercayaan palsu kami ..."
"Ya, situasinya sungguh konyol pada awalnya! Pihak sana bahkan tidak punya senjata yang layak, ada yang di sisiku sampai tertawa terbahak-bahak. Pemimpin regu perlahan mendekat, mencoba menjelaskan dengan nalar, memberitahu mereka bahwa ini sudah era manusia, kita tidak perlu lagi ..."
"Lalu kemudian ... kemudian ...."
Capitano membaca laporan itu. Laporan tersebut merupakan catatan yang ditinggalkan oleh para penyintas setelah mereka sadar, dan Dottore menambahkan beberapa penjelasan setelah melakukan pemeriksaan fisik terhadap mereka. Penduduk setempat mengalami histeria massal yang disebabkan oleh virus akibat kanibalisme dalam jangka panjang—begitulah kesimpulan yang ia buat. Para prajurit yang dikirim untuk menumpas kerusuhan akhirnya mengalami gejala yang sama setelah terpapar sumber air yang terkontaminasi, meskipun tingkat infeksinya lebih ringan dan masih bisa diselamatkan. Setelah itu, Dottore mengeluarkan rencana pengobatan baru, mengamati efek obatnya dengan tangan di belakang punggung—penampilannya seperti seorang dokter sungguhan.
Sangat masuk akal. Sang "Dokter" merapikan kacamatanya, menyipitkan mata dengan tampang yang mengingatkan pada seseorang. Hidup di tempat yang begitu terpencil dan lingkungannya sangat buruk, tidak bisa mengharapkan mereka punya makanan lain untuk dimakan. Capitano mendengarnya sambil menghela napas, tidak ingin membuang waktu untuk membantah kata-kata yang dingin namun benar itu. Siapa yang tenggorokannya digigit putus, siapa lengannya yang masuk ke perut siapa—apakah itu masalah yang bisa dijelaskan hanya dengan kata "masuk akal"?
"Sudahlah." Sang prajurit tiba-tiba memotong pembicaraan, sekaligus memutus lamunan Capitano. "Konselor psikologiku bilang kalau suatu hari aku bisa menceritakan semua kejadian saat itu dengan tenang, itu berarti aku sudah pulih. Omong kosong belaka! ... Maaf." Ia segera menundukkan kepala meminta maaf, lalu melirik jam sakunya. "Aku hanya membuat janji selama satu jam, tidak ingin membuang terlalu banyak waktu Anda—sebenarnya, aku hanya datang untuk berpamitan."
Setelah sang prajurit pergi, Capitano memandangi benda-benda yang ditinggalkannya: sebuah lencana bunga merah, pena bulu dan botol anggur yang selalu dibawa, helm yang telah diperbaiki hingga tampak hampir seperti baru, serta jam saku yang entah sengaja ditinggalkan atau terlupa dibawa. Capitano menduga benda-benda itu tidak berasal dari satu orang yang sama, hanya kebetulan berkumpul di sini. "Aku harap benda-benda ini bisa disimpan oleh Tuan 'Capitano'," demikian kata sang prajurit yang telah memutuskan untuk pensiun, "atau tuan juga bisa mewariskannya kepada penerus Anda, dengan harapan mereka bisa sedikit lebih beruntung dari kami, atau ... sedikit lebih tegar."
Seharusnya tidak berpikir seperti itu. Capitano merenungkan kata-kata yang tidak sempat terucap.
Sebenarnya, orang yang mampu bertahan hidup sudah cukup kuat.
Chalice of Your Blood and Sorrow
No description No story
Chalice of Your Blood and Sorrow
No description Di malam pertama, ia berdiri dengan tangan di belakang punggung di tengah hutan birch yang dingin menusuk tulang. Butiran salju yang menempel di kacamatanya terasa lebih merepotkan daripada yang jatuh di wajahnya, maka ia melepas kacamata itu dan menyimpannya ke dalam saku mantel.
Berbeda dari kesan yang ada di benak orang lain, Zandik sangat memahami manusia.
Pertama, seorang manusia yang utuh memiliki dua ratus enam tulang, sebagian besar berpikir menggunakan kepala, dan biasanya merasakan ketakutan saat terkejut atau terancam.
Kedua, dalam proses deskripsinya, demi ketelitian, ia dengan cermat menyisipkan kata-kata deskriptif seperti "lengkap", "kebanyakan", dan "biasanya" untuk menghindari kemungkinan sanggahan berdasarkan kasus-kasus khusus.
Pada akhirnya, dapat dijelaskan bahwa pemahaman terdalamnya tentang manusia adalah kesadarannya akan potensi manusia yang tak terbatas.
Pada malam kedua, ia duduk di samping api unggun yang hampir padam, berbagi makan malam bersama beberapa penduduk desa—makanan berupa campuran tanaman dan serpihan daging. Seorang wanita berambut hitam dengan wajah penuh kerutan mengaduk-aduk tumpukan kayu bakar, mencoba membuat api menyala lebih besar. Zandik yakin wanita itu pasti tidak tahu mengapa cara itu bisa membuat nyala api tiba-tiba melonjak tinggi—ia melakukannya hanya karena orang-orang sebelumnya juga melakukan hal yang sama dan mendapatkan hasil yang mereka inginkan, sehingga solusi tak tertulis itu pun diwariskan dari generasi ke generasi.
Zandik juga menduga usia sebenarnya perempuan itu pasti lebih muda dari penampilannya, begitu pula beberapa orang lainnya, karena kehidupan yang buruk selalu membuat orang cepat tua dan hati mereka penuh dengan kebencian. Kali ini, objek kebencian mereka adalah rasa dingin, kelaparan, para peri, peri dengan kedudukan lebih tinggi, serta manusia-manusia hina yang tunduk di bawah kekuasaan para peri. Zandik telah diberitahu sebelumnya bahwa pemahaman tempat ini tentang dunia sangat kuno, sehingga ia tidak perlu merasa heran.
Yang menarik, penyakit dan kematian tidak termasuk dalam daftar kebencian para Penduduk Desa. Mungkin karena selagi hidup, orang selalu berjuang secara naluriah, dan ketika mati justru melepaskan semua beban. Dalam situasi seperti ini, kemunculan tiba-tiba seorang manusia hidup biasanya menjadi ancaman yang menimbulkan ketakutan bagi penduduk asli. Untungnya, Zandik yang memahami sifat manusia sudah mempersiapkan diri—serpihan-serpihan hewan yang disebutkan sebelumnya memang berasal dari tangannya.
Betapa sempurnanya tempat ini. Es yang membeku dan badai salju memblokir gangguan dari luar, seperti dunia dalam cangkang di dalam dunia dalam cangkang. Perilaku manusia menjadi lebih primitif, dan jalannya sejarah pun terhenti.
Tempat ini seharusnya melahirkan lebih banyak kemungkinan; dan ketika Zandik berbicara tentang kemungkinan manusia, tidak semuanya bermakna positif.
Terlepas dari perangkat eksternal, otak manusia yang terendam dalam tangki air tidak berbeda dengan yang ada di dalam tengkorak. Selama sinyal yang tepat dapat disimulasikan, otak tersebut akan merespons sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Ketika Dottore menuangkan material eksperimennya ke dalam tangki air, terdengarlah suara anak kecil dari tidak jauh. Anak itu bertanya, apakah gambar di botolmu itu kupu-kupu?
Anak ini pasti sangat penasaran, sampai mau keluar di malam yang bisa membekukan orang hanya untuk menonton eksperimennya. Kalau ia sedikit lebih penasaran, berlari sedikit lebih jauh, melewati hutan birch itu, mungkin ia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih menarik.
Untuk menghargai rasa ingin tahu anak itu, Dottore melemparkan botol kosong kepadanya sambil berkata bahwa itu bukan kupu-kupu, melainkan monster bermata empat! Anak itu mundur selangkah ketakutan, dan botol merah menyala itu pun jatuh terbaring sendiri di salju. Karena reaksi ketakutan anak itu sesuai dengan ekspektasi yang wajar, Dottore dengan cepat kehilangan minat dan kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
Pada malam kesepuluh, makanan dan air dalam tasnya sudah berkurang drastis, digantikan oleh catatan terperinci mengenai uji coba obat-obatan psikotropika. Hasilnya sesuai dengan perkiraannya: pengendalian mental yang diinduksi obat dapat bersifat dua arah. Bersikap aktif dan tenang masing-masing memiliki kegunaannya sendiri, baik untuk menginterogasi narapidana maupun untuk psikoterapi—keduanya seharusnya menghasilkan keuntungan yang cukup menjanjikan.
Hasil eksperimen sangat memuaskan, tetapi ini juga berarti waktu pribadi Zandik akan segera berakhir. Selanjutnya, ia harus kembali ke markas Fatui__ dan menjadi Dottore lagi, untuk melakukan hal-hal yang lebih manusiawi.
Sungguh jauh, pikirnya dengan penuh penyesalan sambil memandang ke arah Snezhnograd.
Andai saja ia bisa melakukan operasi pada otaknya sendiri, agar bisa duduk nyaman di kendaraan seperti orang lain.
Berbeda dari kesan yang ada di benak orang lain, Zandik sangat memahami manusia.
Pertama, seorang manusia yang utuh memiliki dua ratus enam tulang, sebagian besar berpikir menggunakan kepala, dan biasanya merasakan ketakutan saat terkejut atau terancam.
Kedua, dalam proses deskripsinya, demi ketelitian, ia dengan cermat menyisipkan kata-kata deskriptif seperti "lengkap", "kebanyakan", dan "biasanya" untuk menghindari kemungkinan sanggahan berdasarkan kasus-kasus khusus.
Pada akhirnya, dapat dijelaskan bahwa pemahaman terdalamnya tentang manusia adalah kesadarannya akan potensi manusia yang tak terbatas.
Pada malam kedua, ia duduk di samping api unggun yang hampir padam, berbagi makan malam bersama beberapa penduduk desa—makanan berupa campuran tanaman dan serpihan daging. Seorang wanita berambut hitam dengan wajah penuh kerutan mengaduk-aduk tumpukan kayu bakar, mencoba membuat api menyala lebih besar. Zandik yakin wanita itu pasti tidak tahu mengapa cara itu bisa membuat nyala api tiba-tiba melonjak tinggi—ia melakukannya hanya karena orang-orang sebelumnya juga melakukan hal yang sama dan mendapatkan hasil yang mereka inginkan, sehingga solusi tak tertulis itu pun diwariskan dari generasi ke generasi.
Zandik juga menduga usia sebenarnya perempuan itu pasti lebih muda dari penampilannya, begitu pula beberapa orang lainnya, karena kehidupan yang buruk selalu membuat orang cepat tua dan hati mereka penuh dengan kebencian. Kali ini, objek kebencian mereka adalah rasa dingin, kelaparan, para peri, peri dengan kedudukan lebih tinggi, serta manusia-manusia hina yang tunduk di bawah kekuasaan para peri. Zandik telah diberitahu sebelumnya bahwa pemahaman tempat ini tentang dunia sangat kuno, sehingga ia tidak perlu merasa heran.
Yang menarik, penyakit dan kematian tidak termasuk dalam daftar kebencian para Penduduk Desa. Mungkin karena selagi hidup, orang selalu berjuang secara naluriah, dan ketika mati justru melepaskan semua beban. Dalam situasi seperti ini, kemunculan tiba-tiba seorang manusia hidup biasanya menjadi ancaman yang menimbulkan ketakutan bagi penduduk asli. Untungnya, Zandik yang memahami sifat manusia sudah mempersiapkan diri—serpihan-serpihan hewan yang disebutkan sebelumnya memang berasal dari tangannya.
Betapa sempurnanya tempat ini. Es yang membeku dan badai salju memblokir gangguan dari luar, seperti dunia dalam cangkang di dalam dunia dalam cangkang. Perilaku manusia menjadi lebih primitif, dan jalannya sejarah pun terhenti.
Tempat ini seharusnya melahirkan lebih banyak kemungkinan; dan ketika Zandik berbicara tentang kemungkinan manusia, tidak semuanya bermakna positif.
Terlepas dari perangkat eksternal, otak manusia yang terendam dalam tangki air tidak berbeda dengan yang ada di dalam tengkorak. Selama sinyal yang tepat dapat disimulasikan, otak tersebut akan merespons sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Ketika Dottore menuangkan material eksperimennya ke dalam tangki air, terdengarlah suara anak kecil dari tidak jauh. Anak itu bertanya, apakah gambar di botolmu itu kupu-kupu?
Anak ini pasti sangat penasaran, sampai mau keluar di malam yang bisa membekukan orang hanya untuk menonton eksperimennya. Kalau ia sedikit lebih penasaran, berlari sedikit lebih jauh, melewati hutan birch itu, mungkin ia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih menarik.
Untuk menghargai rasa ingin tahu anak itu, Dottore melemparkan botol kosong kepadanya sambil berkata bahwa itu bukan kupu-kupu, melainkan monster bermata empat! Anak itu mundur selangkah ketakutan, dan botol merah menyala itu pun jatuh terbaring sendiri di salju. Karena reaksi ketakutan anak itu sesuai dengan ekspektasi yang wajar, Dottore dengan cepat kehilangan minat dan kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
Pada malam kesepuluh, makanan dan air dalam tasnya sudah berkurang drastis, digantikan oleh catatan terperinci mengenai uji coba obat-obatan psikotropika. Hasilnya sesuai dengan perkiraannya: pengendalian mental yang diinduksi obat dapat bersifat dua arah. Bersikap aktif dan tenang masing-masing memiliki kegunaannya sendiri, baik untuk menginterogasi narapidana maupun untuk psikoterapi—keduanya seharusnya menghasilkan keuntungan yang cukup menjanjikan.
Hasil eksperimen sangat memuaskan, tetapi ini juga berarti waktu pribadi Zandik akan segera berakhir. Selanjutnya, ia harus kembali ke markas Fatui__ dan menjadi Dottore lagi, untuk melakukan hal-hal yang lebih manusiawi.
Sungguh jauh, pikirnya dengan penuh penyesalan sambil memandang ke arah Snezhnograd.
Andai saja ia bisa melakukan operasi pada otaknya sendiri, agar bisa duduk nyaman di kendaraan seperti orang lain.
Testament to Your Faith
No description No story
Testament to Your Faith
No description Pantalone duduk di teater seperti patung, hanya jari telunjuknya yang tampak hidup, sesekali mengetuk mengikuti ketukan musik.
Pertunjukan hari ini bukanlah karya dari seniman ternama, sehingga cukup banyak kursi kosong di bawah sana. Namun ia tetap datang, duduk seorang diri. Dokternya suka menghabiskan waktu di tempat umum, karena dengan begitu ia tidak bisa melakukan tindakan apa pun yang merugikan kesehatannya. Selain itu, di kotak khusus milik Fatui, serangan dari selain rekan-rekan sejawatnya tidak mudah terjadi, sehingga tempat ini hampir menjadi tujuan terbaiknya.
Para aktor di atas panggung terus menyanyikan lagu tentang cinta dan penerimaan, namun kisah-kisah hangat semacam itu kurang diminati penonton di sini. Bukan berarti orang-orang Snezhnaya tidak menyukai akhir yang baik, melainkan sebelum mencapai akhir yang baik itu. Karakternya harus melewati serangkaian penderitaan dan kesulitan, agar dapat mewakili para penduduk tanah yang membeku ini dalam mengungkapkan ganjalan di hati. Kau harus menghancurkan belenggu yang lapuk, berjuang keras menerobos hutan dan badai es, baru kemudian ada kesempatan untuk melihat dari kejauhan puncak dunia yang menghangatkan.
Belum selesai sampai di situ, dunia yang tampak menghangatkan itu pun bukan tempatmu pulang. Jika engkau tidak memiliki nilai, kau hanya bisa memohon belas kasihan yang bukan hakmu, dan keadaan tidak akan membaik sedikit pun. Namun begitu, kau tidak bisa berbalik, itulah pelajaran yang telah ia terima—karena sekali belenggu itu kembali menangkapmu, rantainya akan semakin kuat mencengkeram. Untuk bisa melepaskan diri lagi, kau hanya bisa menunggu sebuah kesempatan, entah itu akan mendorongmu ke situasi yang lebih buruk atau tidak.
Ia pernah membahas topik ini dalam sebuah obrolan santai. Untuk kaum berbeda yang sulit diatur, tanah kelahirannya menggunakan kekerasan dan belenggu untuk menjinakkan mereka, sementara kampung halaman temannya memilih pengusiran. Bahkan dari kefanatikan yang setara, lahirlah kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. Setelah berkata demikian, keduanya tertawa bersamaan, seolah masing-masing mendapatkan kesenangan dari penderitaan satu sama lain.
Kebahagiaan hanya datang sesekali dalam dua puluh tahun pertama hidupnya—misalnya pada hari ibunya menjualnya kepada penagih utang, atau saat ia berhasil meraup keuntungan besar dari para bangsawan dan pejabat tinggi, lalu sempat mengira dirinya sendiri punya kesempatan untuk masuk ke dalam golongan mereka.
Jangan salah paham, bukan berarti ia puas dengan harga jualnya atau keuntungan yang didapat saat itu, melainkan alam bawah sadarnya sudah merasakan potensi kenaikan nilainya di masa depan (siapa sangka ada orang yang dijual dua kali seumur hidup, ha ha). Meski perempuan itu akhirnya menemukan kesempatan untuk menyingkirkan si anak aneh yang tidak penurut, ia pun memanfaatkan momen itu untuk meninggalkan tanah beku yang bahkan binatang liar pun enggan mengunjunginya, lalu memetik pelajaran soal uang yang menghasilkan uang dari kehidupan "ayah angkatnya" yang berantakan. Meski para bangsawan yang bersekutu dengan geng kriminal menggunakan ilusi keuntungan untuk memancingnya masuk ke dalam perangkap, di kedalaman perangkap itu justru terhubung dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari para bangsawan itu sendiri.
Semua keberuntungan aneh itu terjadi setelah ia berhenti berdoa kepada langit, dan hal itulah yang membuatnya semakin meragukan aturan-aturan yang ada di dunia ini. Setelah kehilangan rasa hormatnya kepada para dewa dan bergaul dengan para pengecualian di dunia, ia mendapatkan kualifikasi untuk direkrut oleh dewa. Entah kisah seram seperti ini akan dicaci maki oleh penonton atau tidak, tapi untungnya ia pun tidak berniat untuk berbagi cerita.
Diiringi nyanyian penutup pertunjukan, seseorang tiba-tiba mendorong masuk pintu tanpa peringatan. Gangguan menyebalkan seperti ini hanya bisa dilakukan oleh satu orang, dan andai Harbinger yang baru itu ada di sini, makian yang terlontar pun akan menimbulkan gangguan dua kali lipat.
Berbicara tentang rekan kerja baru, Pantalone merasa hal ini sangat menarik. Begitu tiba, ia langsung mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap berbagai prosedur, dan ia langsung memperlihatkan sikap pemberontak yang seharusnya dimiliki seorang Harbinger. Rencana Pulcinella untuk memanfaatkannya demi mendapat bagian dari Adventurers' Guild jelas-jelas gagal, karena gadis itu tidak mungkin mau mendengarkan hasutan politikus munafik itu. Terlebih lagi, ciptaannya memang telah menanggung semua pekerjaan resepsi yang berat itu. Meskipun secara lahiriah tidak bisa terlalu tampak bersedia, Pantalone sejatinya dengan tulus menyerahkan keuntungan yang menjadi hak Sandrone kepadanya. Hal ini sesuai dengan prinsip transaksi yang adil, dan ia menyetujuinya seratus persen.
Pantalone memang sering melamun selama pertunjukan ini berlangsung, sehingga ia pun tidak terlalu mempedulikan bagaimana akhirnya. Ia bangkit dan berbalik ke arah Dottore yang tampaknya baru saja kembali ke Snezhnograd, lalu dari ekspresi wajah orang itu ia mengetahui bahwa segalanya berjalan lancar. Sebelumnya, Dottore telah mengajukan sebuah hipotesis eksperimen baru, dan kebetulan ia mengetahui sebuah lokasi yang sangat sesuai.
Ini juga merupakan bagian dari kesepakatan yang adil, dan ia menyetujuinya seratus persen.
Pertunjukan hari ini bukanlah karya dari seniman ternama, sehingga cukup banyak kursi kosong di bawah sana. Namun ia tetap datang, duduk seorang diri. Dokternya suka menghabiskan waktu di tempat umum, karena dengan begitu ia tidak bisa melakukan tindakan apa pun yang merugikan kesehatannya. Selain itu, di kotak khusus milik Fatui, serangan dari selain rekan-rekan sejawatnya tidak mudah terjadi, sehingga tempat ini hampir menjadi tujuan terbaiknya.
Para aktor di atas panggung terus menyanyikan lagu tentang cinta dan penerimaan, namun kisah-kisah hangat semacam itu kurang diminati penonton di sini. Bukan berarti orang-orang Snezhnaya tidak menyukai akhir yang baik, melainkan sebelum mencapai akhir yang baik itu. Karakternya harus melewati serangkaian penderitaan dan kesulitan, agar dapat mewakili para penduduk tanah yang membeku ini dalam mengungkapkan ganjalan di hati. Kau harus menghancurkan belenggu yang lapuk, berjuang keras menerobos hutan dan badai es, baru kemudian ada kesempatan untuk melihat dari kejauhan puncak dunia yang menghangatkan.
Belum selesai sampai di situ, dunia yang tampak menghangatkan itu pun bukan tempatmu pulang. Jika engkau tidak memiliki nilai, kau hanya bisa memohon belas kasihan yang bukan hakmu, dan keadaan tidak akan membaik sedikit pun. Namun begitu, kau tidak bisa berbalik, itulah pelajaran yang telah ia terima—karena sekali belenggu itu kembali menangkapmu, rantainya akan semakin kuat mencengkeram. Untuk bisa melepaskan diri lagi, kau hanya bisa menunggu sebuah kesempatan, entah itu akan mendorongmu ke situasi yang lebih buruk atau tidak.
Ia pernah membahas topik ini dalam sebuah obrolan santai. Untuk kaum berbeda yang sulit diatur, tanah kelahirannya menggunakan kekerasan dan belenggu untuk menjinakkan mereka, sementara kampung halaman temannya memilih pengusiran. Bahkan dari kefanatikan yang setara, lahirlah kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. Setelah berkata demikian, keduanya tertawa bersamaan, seolah masing-masing mendapatkan kesenangan dari penderitaan satu sama lain.
Kebahagiaan hanya datang sesekali dalam dua puluh tahun pertama hidupnya—misalnya pada hari ibunya menjualnya kepada penagih utang, atau saat ia berhasil meraup keuntungan besar dari para bangsawan dan pejabat tinggi, lalu sempat mengira dirinya sendiri punya kesempatan untuk masuk ke dalam golongan mereka.
Jangan salah paham, bukan berarti ia puas dengan harga jualnya atau keuntungan yang didapat saat itu, melainkan alam bawah sadarnya sudah merasakan potensi kenaikan nilainya di masa depan (siapa sangka ada orang yang dijual dua kali seumur hidup, ha ha). Meski perempuan itu akhirnya menemukan kesempatan untuk menyingkirkan si anak aneh yang tidak penurut, ia pun memanfaatkan momen itu untuk meninggalkan tanah beku yang bahkan binatang liar pun enggan mengunjunginya, lalu memetik pelajaran soal uang yang menghasilkan uang dari kehidupan "ayah angkatnya" yang berantakan. Meski para bangsawan yang bersekutu dengan geng kriminal menggunakan ilusi keuntungan untuk memancingnya masuk ke dalam perangkap, di kedalaman perangkap itu justru terhubung dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari para bangsawan itu sendiri.
Semua keberuntungan aneh itu terjadi setelah ia berhenti berdoa kepada langit, dan hal itulah yang membuatnya semakin meragukan aturan-aturan yang ada di dunia ini. Setelah kehilangan rasa hormatnya kepada para dewa dan bergaul dengan para pengecualian di dunia, ia mendapatkan kualifikasi untuk direkrut oleh dewa. Entah kisah seram seperti ini akan dicaci maki oleh penonton atau tidak, tapi untungnya ia pun tidak berniat untuk berbagi cerita.
Diiringi nyanyian penutup pertunjukan, seseorang tiba-tiba mendorong masuk pintu tanpa peringatan. Gangguan menyebalkan seperti ini hanya bisa dilakukan oleh satu orang, dan andai Harbinger yang baru itu ada di sini, makian yang terlontar pun akan menimbulkan gangguan dua kali lipat.
Berbicara tentang rekan kerja baru, Pantalone merasa hal ini sangat menarik. Begitu tiba, ia langsung mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap berbagai prosedur, dan ia langsung memperlihatkan sikap pemberontak yang seharusnya dimiliki seorang Harbinger. Rencana Pulcinella untuk memanfaatkannya demi mendapat bagian dari Adventurers' Guild jelas-jelas gagal, karena gadis itu tidak mungkin mau mendengarkan hasutan politikus munafik itu. Terlebih lagi, ciptaannya memang telah menanggung semua pekerjaan resepsi yang berat itu. Meskipun secara lahiriah tidak bisa terlalu tampak bersedia, Pantalone sejatinya dengan tulus menyerahkan keuntungan yang menjadi hak Sandrone kepadanya. Hal ini sesuai dengan prinsip transaksi yang adil, dan ia menyetujuinya seratus persen.
Pantalone memang sering melamun selama pertunjukan ini berlangsung, sehingga ia pun tidak terlalu mempedulikan bagaimana akhirnya. Ia bangkit dan berbalik ke arah Dottore yang tampaknya baru saja kembali ke Snezhnograd, lalu dari ekspresi wajah orang itu ia mengetahui bahwa segalanya berjalan lancar. Sebelumnya, Dottore telah mengajukan sebuah hipotesis eksperimen baru, dan kebetulan ia mengetahui sebuah lokasi yang sangat sesuai.
Ini juga merupakan bagian dari kesepakatan yang adil, dan ia menyetujuinya seratus persen.